KEEROM, ARAHTIMUR.ID – Sebanyak 30 siswa SD Inpres SP 1 Senggi di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, mengikuti program Catatan Patriot Cilik yang diselenggarakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip). Melalui pengenalan peta dasar, observasi lapangan, pemetaan lingkungan, dan kegiatan menggambar harapan, para siswa diajak mengenali kondisi wilayah tempat tinggal mereka sekaligus menyampaikan gagasan tentang kampung yang mereka impikan pada masa depan.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan literasi spasial sejak dini melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak tidak hanya mempelajari cara membaca peta, tetapi juga memahami hubungan antara informasi yang tergambar di atas kertas dan kondisi lingkungan yang mereka jumpai secara langsung.
Pada sesi awal, para siswa diperkenalkan dengan dasar-dasar peta, termasuk simbol untuk menggambarkan berbagai objek di suatu wilayah. Mereka belajar mengenali bagaimana jalan, jembatan, rumah, kebun, dan fasilitas umum direpresentasikan dalam peta, serta bagaimana letak dan hubungan antarobjek dapat membantu menjelaskan karakteristik lingkungan.
Setelah memperoleh pemahaman dasar, para siswa diajak melakukan observasi lapangan di sekitar lingkungan sekolah dan tempat tinggal mereka. Mereka mengidentifikasi objek yang dijumpai, mencatat atau menandai keberadaannya, kemudian menuangkan hasil pengamatan tersebut ke dalam peta sederhana. Melalui proses ini, anak-anak memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana informasi suatu wilayah dikumpulkan dan disajikan secara spasial.
Koordinator Lapangan Tim 16 Ekspedisi Patriot Undip, Rifat Farhan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kesadaran anak-anak terhadap lingkungan sekaligus memperkenalkan peran mereka dalam perkembangan kawasan transmigrasi.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa lingkungan tempat mereka tinggal merupakan bagian dari kawasan yang terus berkembang. Melalui Catatan Patriot Cilik, mereka belajar mengenali ruang di sekitarnya sejak dini. Pengetahuan dan pengalaman anak-anak ini penting karena mereka juga merupakan bagian dari masa depan kawasan transmigrasi,” ujar Rifat.
Anggota Tim 16 Ekspedisi Patriot Undip, Rahma Maulida, menjelaskan bahwa pengenalan peta dasar yang dipadukan dengan observasi lapangan membantu anak-anak memahami lingkungan melalui pengalaman nyata. Dengan mengamati dan memetakan objek di sekitar mereka, para siswa belajar menghubungkan simbol pada peta dengan kondisi di lapangan serta memahami keterkaitan berbagai unsur dalam suatu wilayah.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kegiatan Gambar Harapan. Dalam sesi ini, anak-anak diberi kesempatan untuk menggambarkan kampung yang mereka inginkan pada masa depan. Melalui gambar, mereka dapat mengungkapkan gagasan mengenai lingkungan, fasilitas, dan pembangunan yang diharapkan, berdasarkan pengalaman serta kebutuhan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga selaras dengan pandangan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengenai pentingnya pendidikan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengubah kebiasaan menjadi lebih maju,” ujar Menteri Transmigrasi Iftitah pada 5 Maret 2026.
Pandangan tersebut menjadi relevan dalam pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai peta dan lingkungan, tetapi juga belajar menggunakan pengetahuan untuk mengamati kondisi di sekitar mereka serta mengungkapkan gagasan tentang perubahan yang diharapkan.
Rangkaian Catatan Patriot Cilik mempertemukan dua perspektif penting dalam memahami perkembangan kawasan, yakni kondisi lingkungan saat ini dan harapan masyarakat terhadap masa depan. Observasi serta pemetaan membantu anak-anak mengenali kondisi ruang yang ada, sedangkan Gambar Harapan memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi mengenai kampung yang ingin mereka tinggali.
Dalam pembangunan kawasan transmigrasi, pemahaman terhadap wilayah tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik dan data teknis, tetapi juga perlu mempertimbangkan pengalaman masyarakat yang beraktivitas di dalamnya. Pengalaman anak-anak dalam menggunakan jalan, mengakses fasilitas umum, mengenali rumah, dan menjalani kegiatan sehari-hari dapat memberikan perspektif tambahan mengenai lingkungan tempat mereka tumbuh.
Pandangan tersebut bukan pengganti data teknis maupun proses perencanaan resmi. Namun, aspirasi anak-anak dapat menjadi masukan awal untuk memahami kebutuhan lingkungan dari sudut pandang generasi muda yang turut menjadi bagian dari kehidupan kawasan transmigrasi.
Melalui program Catatan Patriot Cilik, TEP Undip berupaya menghadirkan pembelajaran kontekstual yang mendorong anak-anak mengenali ruang di sekitarnya, memahami dasar-dasar pemetaan, dan menyampaikan aspirasi secara kreatif. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi perspektif generasi muda untuk turut diperhatikan dalam memahami kebutuhan dan arah perkembangan Kawasan Transmigrasi Senggi pada masa mendatang.







